Kost Putri Sapen Jaya

MENGAPA HARUS KOS PUTRI SAPEN JAYA ?

Kos Putri Sapen Jaya adalah pilihan yang tepat. Rumah kos yang bersih, aman, dan nyaman serasa tinggal di rumah sendiri.
Kami membudayakan filosofi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Dan menerapkan konsep Kaizen, berusaha terus menerus menjaga, mempertahankan, meningkatkan kualitas rumah kos.
Lokasi Kos Sapen Jaya sangat strategis, anda kuliah di UIN SUKA ?
Jalan kaki dari Rumah Kos Sapen Jaya ke Pintu Belakang UIN SUKA kurang dari 5 menit.
Mau ke Lippo Plaza jalan Adisucipto ? dekaat ....
Mau ke Rumah Sakit Siloam ? dekaat...
Mau ke jalan Timoho atau sekitar Lempuyangan ? dekat juga.
Kos Sapen Jaya juga mempunyai fasilitas lengkap. Fasilitas Wi-fi, tempat jemur, tempat terima tamu, tempat parkir motor luas dan aman. Tersedia dapur umum dan kulkas umum. Bila anda merasa jenuh di kamar terus, anda bisa duduk duduk santai di dekat kolam ikan dan taman.

About Me Fasilitas

Serasa di rumah sendiri !



Lokasi Strategis

Dekat dengan beberapa kampus dan stasiun kereta api dan lain sebagainya.

Fasilitas Lengkap

Ada Wifi, ruang tamu, tempat jemur dan lain sebagainya.

Parkir Luas

Tempat parkir motor luas dan tersedia garasi mobil juga.

Fasilitas Dapur

Adadapur umum lengkap dengan kulkas dan rak perlengkapan.

SEKILAS INFO

Lihat Lainnya

Filosofi Pacul dalam Kehidupan Anak Kost


        Pada gambar di atas terlihat bagian-bagian pacul yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pacul atau cangkul bukan hanya alat pertanian, tetapi dalam budaya Jawa juga memiliki makna dan pesan hidup yang sederhana namun bermakna. Dalam pemaknaan Jawa, pacul sering dikaitkan dengan “Papat Kang Ora Keno Ucul”, yaitu empat hal penting yang tidak boleh lepas dalam menjalani kehidupan. Empat nilai tersebut tercermin dari bagian-bagian pacul berikut ini.

1. Doran (gagang pacul)

Doran merupakan pegangan pacul. Dalam filosofi Jawa dikenal ungkapan “ojo nganti adoh marang Pengeran”, yang berarti jangan sampai jauh dari Tuhan. Maknanya, dalam bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari, manusia tetap perlu berdoa, bersyukur, dan mengingat Tuhan agar hidup terasa lebih tenang dan terarah.


2. Bawak (bagian besi pacul)

Bawak melambangkan “obahing awak” atau usaha dan kerja nyata. Pesan ini mengingatkan bahwa segala sesuatu perlu diusahakan dengan tindakan, bukan hanya direncanakan. Dalam kehidupan di kos, hal ini bisa diterapkan dengan belajar mandiri, bertanggung jawab, dan menjalankan kewajiban sehari-hari dengan baik.


3. Tandhing (pengikat pacul)

Tandhing berfungsi sebagai pengikat agar pacul tidak terlepas. Secara makna, bagian ini melambangkan keteguhan dan tanggung jawab. Dalam lingkungan kos, nilai ini tercermin dari sikap menaati aturan, menjaga ketertiban, serta saling menghormati antar penghuni.


4. Landhep / Langkir (bagian tajam pacul)

Landhep atau langkir adalah bagian pacul yang tajam. Bagian ini melambangkan ketajaman berpikir. Manusia diharapkan mampu berpikir jernih, bersikap bijak, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin agar hubungan dengan orang lain tetap terjaga.


        Melalui filosofi pacul, kita diingatkan bahwa kehidupan yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh fasilitas, tetapi juga oleh sikap, tanggung jawab, dan kebiasaan baik dalam hidup bersama. Nilai-nilai sederhana inilah yang diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kos.

KISAH TUNA NETRA BERJUALAN KERUPUK


 

Saat saya di Sapen Yogjakarta, saya bertemu dengan seorang bapak tuna netra yang membawa kotak, ternyata bapak itu berjualan kerupuk dan aneka snacks kering. Saya hampiri dan saya beli kerupuknya, saya kasih uang lebih buat bapaknya, Saya sangat terharu dan salut dengan bapak tuna netra tersebut, selalu bersyukur pantang menyerah dan berjuang gigih mencari nafkah dengan segala keterbatasannya.

Kisah tunanetra berjualan kerupuk menunjukkan perjuangan gigih mereka mencari nafkah dengan semangat pantang menyerah, meski menghadapi kesulitan seperti berjalan jauh, penghasilan tak menentu (kadang hanya puluhan ribu sehari), sering ditipu pembeli, dan terkadang harus ditemani anak-nya; mereka mengandalkan tongkat, kesabaran, dan doa demi menafkahi keluarga, seringkali menjual kerupuk milik orang lain dengan keuntungan kecil. 

Lika-liku Perjuangan

·         Keterbatasan Fisik: Berjalan jauh (hingga 6 km) sambil membawa dagangan, menavigasi jalan dengan tongkat, dan terkadang terjatuh karena kurangnya perhatian pengguna jalan.

·         Penghasilan Minim: Seringkali hanya mendapat untung sedikit (misal Rp1.000/bungkus) dan penjualan tidak pasti, kadang hanya cukup untuk makan nasi garam.

·         Tantangan Pembeli: Beberapa pembeli memanfaatkan kondisi mereka dengan menipu saat pembayaran.

·         Dukungan Keluarga: Ada yang dibantu anak sekolah untuk menemani berjualan, ada pula yang istrinya juga berjualan di lokasi berbeda. 

Semangat dan Keyakinan

·         Pantang Menyerah: Meskipun kesulitan, mereka tetap bersyukur, tidak mengeluh, dan berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga.

·         Manajemen Diri: Menjaga etika berjualan meskipun pernah ditipu, serta menjalani puasa di bulan Ramadhan sambil berjualan.

·         Sederhana: Ada yang menjual kerupuk milik orang lain, mengambil untung kecil, dan mengandalkan rezeki dari usaha tersebut. 

Semangat MBG Makin Bersyukra riang Gembira

BERSYUKRA adalah singkatan dari:

๐Ÿ”† Bersyukur

๐Ÿ”† Bersuka

๐Ÿ”† Berkarya

 

Bersyukur: Seorang tuna netra yang selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh, seberapapun penghasilan yang ia terima, ia selalu berterimakasih pada Tuhan.

Bersuka: Dengan penuh suka cita dia berjualan kerupuk, yakin dan percaya Tuhan pasti mempetemukannya dengan orang baik dan jujur, Tuhan pasti kasih berkat berlimpah,

Berkarya: Dengan segala keterbatasannya, dia berjuang gigih pantang menyerah mencari nafkah dengan berjualan kerupuk.

Kalau seorang tuna netra saja bisa Bersyukra, maka seharusnya kita dengan phisik yang sempurna bisa MBG Makin Bersyukra riang Gembira

FILOSOFI PACUL



Pacul atau cangkul adalah alat pertanian yang sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Jawa. Namun bagi orang Jawa, pacul bukan hanya sekadar alat untuk mencangkul tanah. Di balik bentuknya yang sederhana, pacul memiliki makna filosofis yang dalam. Kata pacul sering dimaknai sebagai “Papat Kang Ora Keno Ucul”, yaitu empat hal yang tidak boleh lepas dari kehidupan manusia.

Pacul terdiri dari empat bagian, dan masing-masing memiliki makna:

1. Doran (gagang pacul)

Doran dimaknai sebagai “ojo nganti adoh marang Pengeran”. Artinya, ketika bekerja atau berusaha, manusia harus selalu berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pegangan ini diwujudkan dengan Donga marang Pengeran, selalu berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa.

2. Bawak (bilah besi pacul)

Bawak dimaknai sebagai “obahing awak”, yaitu gerak tubuh. Dalam kehidupan, usaha tidak cukup hanya dengan doa. Harus ada kerja nyata, tindakan, dan tenaga yang digerakkan untuk mencapai tujuan.

3. Tandhing / pantek (pasak pengikat)

Tandhing melambangkan keteguhan hati. Pasak kecil ini menjaga agar pacul tidak terlepas. Maknanya, manusia harus memiliki semangat pantang menyerah, tetap kuat dalam keadaan apa pun, serta tangguh menghadapi cobaan hidup.

4. Langkir / Landhep (bagian bilah yang tajam)

Bagian ini melambangkan ketajaman pikir. Dalam hidup, manusia harus cerdas, mampu berpikir jernih, dan mengarahkan kecerdasan tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat. Ketajaman pikiran harus dijaga agar tidak melukai diri atau orang lain, dan terus diasah dengan ilmu yang baik agar bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Demikianlah filosofi dalam pacul, alat sederhana namun mengandung ajaran hidup yang mendalam. Bagi orang Jawa, pacul bukan hanya sarana bekerja, tetapi juga simbol keseimbangan antara doa, usaha, keteguhan, dan kecerdasan dalam menempuh hidup